20 Oktober 2018

Wow, Helm SNI Tak Tentu Aman Untuk Digunakan Balapan

HELM SNI

Helm merupakan suatu piranti khusus untuk melindungi kepala saat terjadi benturan atau tabrakan di jalan, hal ini berlaku bagi semua pengendara kendaraan roda dua khususnya yang memakai helm. Namun di balik semua itu ada fakta unik dari sebuah Helm SNI (Standart Nasional Indonesia) yang di pakai untuk adu balap di lintasan sirkuit. Mengapa demikian? Ternyata meski telah mengantongi regulasi dari pemerintahan mengenai SNI yang diklaim memiliki jaminan atas kualitas produknya bermutu tinggi, serta termasuk salah satu standart produk yang baik digunakan oleh konsumen. Tapi belum tentu “aman” ketika digunakan untuk keselamatan balapan motor. Apalagi di kawasan Tanah Air ini cukup fleksibel sekali terkait regulasi balapan beserta sistem yang akan di jalankan nantinya.

Dengan demikian menurut Harry Suherman selaku Presdir Cargloss mengatakan helm berlabel SNI saat ini belum bisa dijadikan sebuah acuan yang tepat untuk standart keselamatan balapan sepeda motor. Terkait masalah pembuatan helm motor yang ada dari plastik maupun fiberglass, bahkan sebuah produk helm merek Arai ini dibuat dari super-fiberglass bukan material fiberglass untuk talang air. Dan untuk Cargloss sendiri memang dibuat dari plastik yang mana telah lolos Standart Nasional Indonesia (SNI), meski begitu Cargloss “tak mau” helm buatannya ini dipakai untuk ajang balapan motor di lintasan Sirkuit.

Hal ini dikarenakan di saat balapan tentu pengendara mamacu kendaraan yang ditungganginya secepat mungkin untuk mampu berada di posisi yang paling awal atau pertama. Sehingga kecepatan motor yang jelas akan lebih meningkat dua kali lipat jika dibandingkan dengan pengendara di jalan raya. Ilustrasi kecepatan motor di jalan raya rata-rata maksimalnya si pengendara bisa sampai 120 km/jam, namun sebaliknya bila di lintasan sirkuit bisa jadi menembus angka 160 km/jam. Apabila kecepatan di dua area yang berbeda ini dihitung seberapa besar tingkat juole ketika terjadi benturan, hasilnya nanti akan sangatlah berbeda sekali.

Sebenarnya perhitungan satuan joule ini biasanya digunakan untuk sebuah patokan dalam menentukan sebuah helm bisa lolos uji Standart Nasional Indonesia (SNI) atau tidak. Pabrikan helm SNI di Indonesia ini mengacu pada satuan joule untuk menghitung seberapa kuat helm tersebut bila di jatuhkan dari ketinggian mencapai 3 meter. Padahal helm buatan luar negeri seperti contoh Arai berstandart (DOT), ini proses pengujian standart helm justru di jatuhkan dari ketinggian mencapai 3,38 meter.

Ternyata bukan hanya dijatuhkan saja, melainkan helm akan diberi beban sebesar 5 kilogram untuk proses pengujian selanjutnya. Tetapi helm SNI juga ada tahap lain untuk bisa berlabel SNI yakni harus lolos uji tusuk yang mana untuk memastikan helm tersebut tahan terhadap benda tajam.

Kesimpulannya, coba sobat perhatikan pembalap motor katakanlah ajang MotoGP yang mana semua rider memakai helm berstandart DOT bukan SNI. Dari itu saja sudah terlihat bahwa helm berstandart DOT lebih cocok digunakan untuk ajang balap motor di lintasan, sehingga wajar saja Cargloss “tak mau” helm buatannya itu di pakai pembalap motor sebab Ia mengakui kekuatan helm DOT lebih baik dibanding SNI, hal ini terkait tingkat keselamatan pembalap.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.